Ditularkan Melalui Tikus, Hantavirus Sudah Ada Sejak Tahun 1950 Senin, 18/05/2026 | 08:04
Hantavirus ditularkan melalui tikus
Berkabarnews.com, Jakarta - Hantavirus dikaitkan sebagai penyakit akibat tikus dan membuat heboh dunia setelah kasus di kapal pesiar internasional yang menyebabkan kematian beberapa penumpang dalam waktu singkat. Banyak yang menyatakan Hantavirus lebih menakutkan dari Covid-19, sehingga membuat kecemasan global.
Ternyata Hantavirus ini sudah ada sejak lama dan bukan jenis virus yang baru muncul. Bahkan virus ini sudah ditemukan di Indonesia sejak puluhan tahun lalu dan para peneliti telah lama melakukan investigasi terhadap penyebab dan penularannya.
Hantavirus mulai berkembang setelah Perang Korea berlangsung pada tahun 1951 hingga 1953, dimana ribuan tentara Pasukan PBB mengalami demam berdarah misterius dengan gangguan ginjal yang belum diketahui penyebabnya. Kondisi ini mendorong ilmuwan melakukan penelitian terhadap penyakit tersebut.
Investigasi ilmiah mengenai hantavirus terus berkembang selama beberapa dekade berikutnya. Pada tahun 1978 seorang penderita berhasil diisolasi setelah diketahui tertular dari hewan pengerat kecil bernama Apodemus agrarius di dekat Sungai Hantan, Korea Selatan. Virus tersebut kemudian diberi nama virus Hantaan sesuai lokasi penemuannya.
Dari sinilah sejarah hantavirus mulai dikenal luas dalam dunia medis modern. Kasus yang ditemukan kala itu diduga berkaitan dengan lebih dari 3.000 kasus demam berdarah pada tentara setelah perang Korea berakhir. Virus ini diketahui menjadi penyebab penyakit haemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS yang menyerang ginjal dan pembuluh darah manusia.
Pada tahun 1993, dunia kembali dikejutkan oleh wabah hantavirus di wilayah barat daya Amerika Serikat. Wabah tersebut menyebabkan gangguan serius pada saluran pernapasan sehingga memunculkan istilah hantavirus pulmonary syndrome atau HPS.
Sejak saat itu, perhatian dunia terhadap penyakit akibat tikus semakin meningkat karena gejalanya dapat berkembang cukup berat dalam waktu singkat. Tetapi hingga saat ini para ahli tetap menegaskan bahwa hantavirus memiliki pola penularan berbeda dibanding virus pernapasan seperti Covid-19.
Seseorang yang terinfeksi hantavirus biasanya mengalami gejala awal seperti demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Gejala tersebut sangat mirip dengan beberapa penyakit tropis lain yang lebih umum ditemukan di Indonesia, seperti demam berdarah, tifoid, atau leptospirosis.
Penularan hantavirus umumnya terjadi melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus. Virus dapat masuk ke tubuh manusia lewat udara yang mengandung partikel urin, feses, atau saliva tikus. Selain itu, kontak langsung dengan permukaan terkontaminasi juga bisa meningkatkan risiko penularan.
Dalam pedoman nasional dijelaskan, penularan hantavirus terjadi melalui udara yang terkontaminasi kotoran tikus. Artinya, seseorang tidak harus digigit tikus untuk tertular karena menghirup udara terkontaminasi saja sudah bisa memicu infeksi.**/ara