Sejarah Melempar Jumrah Saat Melaksanakan Ibadah Haji Jumat, 08/05/2026 | 19:23
Mmelempar Jumrah
Berkabarnews.com, Pekanbaru - Melempar jumrah merupakan salah satu ritual haji, yakni melontarkan tujuh kerikil ke pilar-pilar di Mina (Ula, Wustha, Aqabah) pada tanggal 10-13 Dzulhijjah untuk simbol perlawanan terhadap setan. Ibadah ini mengikuti napak tilas Nabi Ibrahim AS saat menolak godaan setan. Batu diambil dari Muzdalifah dan dilempar dengan mengucapkan takbir.
Lempar jumrah termasuk dalam ibadah ta'abbudiyah, yaitu bentuk penghambaan yang tidak selalu dijelaskan makna rasionalnya. Melempar batu dilakukan semata karena dicontohkan Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk ketaatan. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, setiap ritual dalam haji berkaitan erat dengan sejarah Nabi Ibrahim AS dan tradisi bangsa Arab masa Jahiliah.
Beberapa rangkaian ibadah haji memiliki kemiripan dengan kisah hidup Nabi Ibrahim, terutama peristiwa pengorbanan putranya, Isma'il. Tidak heran jika ibadah haji sering dipahami sebagai bentuk napak tilas spiritual keluarga Ibrahim. Di antara ritual penting tersebut adalah pelaksanaan lempar jumrah.
Mengutip buku Kisah Bapak dan Anak dalam Al-Qur'an oleh Adil Musthafa Abdul Hakim, pelemparan jumrah dilakukan karena iblis berusaha menghalang-halangi Nabi Ibrahim AS ketika melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail AS. Gangguan iblis ini agar Nabi Ibrahim AS agar mengurungkan niatnya. Namun, Nabi Ibrahim AS mengetahui bahwa upaya yang dilakukan iblis itu adalah agar dirinya tergoda dan tidak menaati perintah-Nya.
Ketika malaikat Jibril membawa Nabi Ibrahim menuju lokasi Jumrah 'Aqabah, yaitu bagian paling barat dari kawasan Mina, tiba-tiba setan muncul menghadang mereka. Ibrahim pun segera melemparnya dengan tujuh batu kerikil, setan kemudian menghilang. Inilah yang saat ini dinamakan jumrah ula (pertama).
Setelah upaya pertamanya gagal, iblis dalam wujud aslinya kemudian membujuk Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS, agar melarang suaminya untuk menyembelih putra kesayangannya. Namun, Siti Hajar juga menolak dan melemparinya dengan batu. Peristiwa ini terjadi di tempat yang sekarang menjadi tempat melempar jumrah wustha (pertengahan).
Upaya iblis tidak berhenti sampai di situ. Ia pun beralih menggoda Nabi Ismail AS yang dianggapnya masih rapuh imannya. Namun, justru Nabi Ismail AS kala itu sejak awal memiliki pendirian yang teguh dan meyakini bahwa perintah untuk menyembelihnya datang dari Allah SWT langsung.
Nabi Ismail AS kemudian mengambil batu dan melemparkannya ke iblis. Peristiwa ini disebut dengan jumrah aqabah. Tempat melempar jumrah, sebagaimana dilakukan Nabi Ibrahim AS, saat ini dilakukan di sebuah pilar atau tiang elips pipih yang ada di Mina. Tiang tersebut merupakan simbol iblis dan hawa nafsunya.
Ritual lempar jumrah melampaui sekadar rutinitas haji. Ia merekam keteguhan Nabi Ibrahim melawan godaan setan dan simbol ketaatan penuh makna umat Islam. Setiap pelemparan batu di Mina mengingatkan warisan Ibrahim dan pentingnya tauhid.***/int