Dari Atap Bocor Menuju Rumah Layak Huni, Harapan Baru Anismar di Usia Senja Senin, 16/03/2026 | 11:47
Kondisi awal rumah Asnimar
Berkabarnews.com, Pekanbaru - Di bawah rindangnya pepohonan di Jalan Padat Karya RT 02 RW 04 Kelurahan Tuah Negeri, Kecamatan Tenayan Raya, berdiri sebuah rumah kayu dengan kondisi yang memprihatinkan, renta dimakan usia dan sudah tidak layak huni. Terlihat dinding papan yang mulai lapuk, atap yang berlubang di sana-sini dan bangunan itu sedikit miring.
Di rumah yang jauh dari kata layak ini Anismar (60) tinggal, selama bertahun-tahun. Bagi perempuan lanjut usia itu, rumah tersebut bukan sekadar tempat berteduh. Di sanalah ia menyimpan kenangan panjang tentang perjuangan hidup, tentang keluarga, tentang kehilangan dan tentang harapan yang tak pernah benar-benar padam. Dan suatu hari, harapan itu datang dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 yang dilaksanakan oleh Kodim 0301/Pekanbaru, rumah tidak layak huni milik Anismar masuk dalam daftar penerima bantuan pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Kabar ini tentu saja menjadi titik balik bagi kehidupan perempuan yang telah melewati begitu banyak ujian hidup.
Pada siang itu, di teras rumah sederhana yang sebagian kayunya mulai rapuh, Anismar duduk berdampingan dengan putrinya, Meta. Garis-garis usia tampak jelas di wajahnya, namun sorot matanya tetap menyimpan keteduhan. Di depan mereka, seorang prajurit TNI dari Satgas TMMD, Sertu Fretriadi, duduk berbincang santai. Ia mendengarkan cerita demi cerita tentang perjalanan hidup keluarga Anismar yang selama ini bertahan dalam keterbatasan.
Percakapan sederhana di teras rumah itu menjadi awal dari perubahan besar. Tak lama setelah proses pendataan dan peninjauan dilakukan, keputusan pun diambil. Rumah lama yang selama ini menjadi tempat berteduh Anismar harus dirobohkan agar dapat dibangun kembali menjadi hunian yang lebih layak.
Pagi itu suasana di halaman rumah Anismar terasa berbeda. Suara kicauan burung menari nari penuh sukacita terbang kian kemari di atas gubuk reot mulai lapuk di makan ulat. Beberapa prajurit yang tergabung dalam Satgas TMMD ke-127 mulai berdatangan membawa peralatan kerja. Mereka kemudian membongkar satu per satu bagian rumah yang telah lama berdiri di tempat itu.
Papan-papan dinding yang lapuk dilepas perlahan. Atap seng yang telah berkarat diturunkan dengan hati-hati. Bagi Anismar, pemandangan itu tentu bukan hal yang mudah. Rumah yang selama puluhan tahun menjadi saksi perjalanan hidupnya kini harus rela dilepas.
Di sanalah Anismar membesarkan anak-anaknya, menjalani masa suka dan duka bersama sang suami, hingga akhirnya harus menghadapi kehilangan. Namun di balik rasa haru itu, tersimpan keyakinan bahwa sesuatu yang lebih baik sedang dipersiapkan untuknya. Tak lama kemudian, rumah lama itu pun rata dengan tanah.
Di tempat yang sama, para prajurit bersama warga mulai menata kembali lahan. Batu bata disusun, tanah diratakan, dan pondasi mulai dibangun sebagai dasar rumah baru bagi Anismar. Di bawah terik matahari, tangan-tangan para prajurit bergerak tanpa henti. Ada yang mencampur semen, menyusun batu bata, hingga merangkai besi tulangan. Pembangunan rumah layak huni bagi Anismar pun resmi dimulai pada Kamis, 12 Februari 2026.
Di lokasi pembangunan, suasana gotong royong terasa begitu kuat. Para prajurit Satgas TMMD bekerja berdampingan dengan warga sekitar. Tanpa banyak kata, mereka saling membantu menyelesaikan setiap tahapan pekerjaan. Beberapa anggota satgas terlihat memotong besi tulangan, sementara yang lain menyiapkan material bangunan.
Bagi Anismar, pemandangan itu menjadi momen yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Rumah yang selama bertahun-tahun ia tempati dalam kondisi sederhana kini tengah berubah menjadi hunian yang lebih layak berkat kepedulian banyak orang.
Kisah Perantauan yang Penuh Perjuangan
Perjalanan hidup Anismar di Pekanbaru sebenarnya telah dimulai sejak lama. Pada tahun 1995, ia mengikuti suaminya, Efendi, merantau dari kampung halaman di Sumatera Barat. Efendi berasal dari Solok, sementara Anismar merupakan perempuan kelahiran Payakumbuh.
Ketika pertama kali tiba di kawasan Tuah Negeri, kondisi wilayah tersebut masih sangat sepi. Pepohonan masih tumbuh lebat dan sebagian besar area tampak seperti hutan. Untuk kebutuhan air sehari-hari, mereka bahkan masih mengandalkan sumur. Saat itu, Efendi bekerja membuat batu bata setelah diajak seorang kenalan bernama Acnur untuk mengelola tungku batu bata di kawasan tersebut.
Kehidupan mereka di awal perantauan tidaklah mudah. Efendi lebih dahulu datang ke Pekanbaru untuk mencari pekerjaan bersama teman-temannya, sementara Anismar masih menunggu di kampung halaman. Sekitar seminggu kemudian, sang suami kembali menjemputnya agar ikut menetap di Pekanbaru.
Pada tahun-tahun pertama, mereka hanya mengelola tungku milik orang lain. Berkat kerja keras dan ketekunan, perlahan-lahan kehidupan mereka mulai membaik. Mereka bahkan sempat menyewa tungku sendiri untuk memproduksi batu bata. Selama sekitar tiga tahun mereka terus bekerja hingga akhirnya mampu membeli sebidang tanah dengan harga sekitar tiga juta rupiah. Di atas tanah itulah mereka membangun rumah sederhana dan memulai kehidupan baru bersama keluarga.
Ujian Hidup yang Datang Bertubi-tubi
Dari pernikahannya dengan Efendi, Anismar dikaruniai tujuh orang anak. Pada kenyataan perjalanan hidup keluarga tersebut tidak selalu berjalan mulus. Seiring berjalannya waktu, kondisi kesehatan sang suami mulai menurun. Penyakit yang dideritanya membuat usaha batu bata yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga tidak lagi bisa dijalankan dengan baik.
Pada tahun 2017, Efendi akhirnya meninggal dunia. Kepergian suami tercinta menjadi pukulan berat bagi Anismar. Selain kehilangan pasangan hidup, ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa sumber penghasilan keluarga hampir tidak ada lagi. Sejak saat itu, kehidupan Anismar semakin berat.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia hanya mengandalkan pekerjaan serabutan jika ada kesempatan. Untungnya, anak-anaknya mulai bekerja dan perlahan membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Sementara itu, Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-127 Tahun Anggaran 2026 Kodim 0301/Pekanbaru terus mempercepat rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Anismar. Bahkan, guna memastikan pekerjaan selesai tepat waktu, personel Satgas TMMD terus menggesa pekerjaan rehab rumah tersebut.
Pekerjaan tersebut difokuskan pada sejumlah hal penting, terutama pengecoran lantai rumah dan plester dinding. Kedua item itu menjadi bagian krusial dalam tahapan akhir rehabilitasi rumah agar bangunan semakin kokoh, rapi, dan siap memasuki proses penyelesaian berikutnya.
Warna Hijau Jadi Pilihan Atap RTLH Anismar
Perubahan besar kini tampak pada Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Anismar, warga Kelurahan Tuah Negeri, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, yang direnovasi melalui Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 Kodim 0301/Pekanbaru. Warna hijau dipilih sebagai warna atap rumah, memberikan nuansa segar sekaligus menandai babak baru bagi hunian tersebut. Minggu, 01 Maret 2026.
Pantauan di lokasi kegiatan, personel Satgas TMMD terus melanjutkan pengerjaan tahap penyelesaian. Atap seng berwarna hijau yang telah terpasang rapi menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan rumah yang lebih layak, aman, dan nyaman bagi penghuninya.
Pemilihan warna hijau bukan sekadar estetika. Warna tersebut memberi kesan sejuk dan menenangkan, sekaligus menjadi simbol harapan baru bagi Ibu Anismar yang selama ini tinggal di rumah dengan kondisi kurang bagus. Kini, perlahan rumahnya berubah menjadi tempat tinggal yang lebih bagus.
Komandan Satgas TMMD ke-127 Kodim 0301/Pekanbaru Kolonel Inf Ikhsanuddin, S.Sos., M.M., melalui Dan SSK Lettu Kav Heri Kurniawan menyampaikan bahwa pembangunan RTLH dilakukan dengan memperhatikan kualitas dan kenyamanan penghuni. “Kami ingin rumah ini benar-benar layak huni, bukan hanya berdiri. Setiap detail dikerjakan agar warga bisa merasakan manfaatnya dalam jangka panjang,” ungkapnya.
Dengan semangat gotong royong antara Satgas TMMD dan masyarakat setempat, pembangunan RTLH milik Ibu Anismar ditargetkan segera rampung. Program TMMD ke-127 pun diharapkan terus menghadirkan perubahan nyata bagi warga Tenayan Raya, sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Pemasangan instalasi listrik
Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 yang dilaksanakan oleh Kodim 0301/Pekanbaru terus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di wilayah sasaran. Tidak hanya mempercepat pembangunan fisik, personel Satgas TMMD juga menunjukkan kemampuan teknis, salah satunya dalam pemasangan instalasi listrik pada sasaran Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Pada Senin (2/3/2026), personel Satgas TMMD tampak terampil dan teliti menyelesaikan pemasangan instalasi listrik di RTLH milik Anismar. Pekerjaan dilakukan dengan memperhatikan aspek kerapian, keamanan, serta standar instalasi agar aman digunakan oleh keluarga penerima manfaat.
Pemasangan jaringan listrik ini menjadi bagian penting dari proses rehabilitasi RTLH. Rumah yang sebelumnya gelap dan minim fasilitas pendukung kini mulai memiliki penerangan yang layak. Kehadiran listrik tidak hanya menunjang aktivitas harian keluarga, tetapi juga meningkatkan rasa aman, khususnya pada malam hari dan selama bulan suci Ramadan.
Di sela-sela pekerjaan, personel Satgas TMMD juga menyempatkan diri berkomunikasi dengan warga sekitar. Suasana gotong royong dan kebersamaan terlihat kental, mencerminkan kedekatan TNI dengan masyarakat dalam setiap tahapan pelaksanaan TMMD.
Satgas TMMD lakukan pengecoran dan pengecatan RTLH Anismar
Proses pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Anismar (60) terus menunjukkan perkembangan positif. Memasuki hari Rabu (4/3/2026), progres pekerjaan telah mencapai 88 persen. Sejak pagi, personel Satgas TMMD ke-127 bersama masyarakat sekitar bergotong royong menyelesaikan tahap demi tahap pekerjaan. Dengan penuh semangat, mereka bergantian mencampur adukan semen, mengangkat material, hingga merapikan hasil cor agar teras rumah tampak kokoh dan rapi.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menyelesaikan sasaran fisik, tetapi juga mencerminkan kebersamaan yang menjadi ciri khas pelaksanaan TMMD. Kehadiran TNI di tengah masyarakat memberikan energi positif dan menumbuhkan rasa optimisme bagi warga penerima manfaat.
Dengan sisa pekerjaan yang terus dikebut, pembangunan RTLH Ibu Anismar memasuki tahap akhir. Bagi Ibu Anismar, pembangunan ini bukan sekadar perbaikan fisik rumah, melainkan awal dari kehidupan yang lebih baik. Di usianya yang ke-60 tahun, ia kini bisa tersenyum melihat dinding rumahnya berdiri tegak dan atap yang akan melindunginya dari panas dan hujan.
Komandan Satgas TMMD ke-127 Kodim 0301/Pekanbaru, Kolonel Inf Ikhsanuddin, S.Sos., M.M., menegaskan bahwa percepatan pembangunan ini merupakan bentuk nyata kepedulian TNI kepada masyarakat.
“TMMD bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun harapan. Kami ingin memastikan rumah ini benar-benar selesai tepat waktu dan memberikan kenyamanan bagi Ibu Anismar,” ungkapnya penuh semangat.
Anismar Berurai Air Mata, Haru Rumahnya Kini Sudah Layak Huni
Anismar tidak bisa menyembunyikan rasa harunya ketika melihat rumah semi permanen miliknya sudah menjadi lebih baik, Sabtu (7/3/2026). Air matanya tumpah menyaksikan rumahnya kini lebih nyaman untuk ditinggali. Dirinya dengan berurai air mata haru menyaksikan dua kamar dengan satu ruang tengah sudah terpasang keramik putih. Ia tidak sabar ingin menempati rumah dengan cat hijau ini.
Wanita 60 tahun itu dengan suara gemetar tidak henti mengungkapkan rasa syukur. Ia merasa nyaman ketika memasuki rumah yang kondisinya sudah layak huni tersebut.
Rumah Asnimar selesai 100 persen
"Senang dan nyaman, terima kasih sebanyak-banyaknya kepada TNI, karena sudah membantu perbaikan rumah kami," papar Asnimar haru. Tangis wanita berkerudung itu pecah ketika bercerita bahwa dulu rumahnya cuma berupa rumah kayu semi permanen. Atap rumahnya sering bocor ketika hujan deras mengguyur.
"Terima kasih semuanya, kondisi rumah sebelum ini bocor, sedih saya pak. Terima kasih atas bantuan bapak-bapak dari TNI," ungkapnya.
Kasdam XIX/TT Serahkan Kunci Rumah Layak Huni Secara Simbolis
Seusai upacara penutupan program TNI Manunggal Membangun Desa ke-127 Tahun 2026 Kodim 0301/Pekanbaru dilaksanakan penyerahan kunci rumah layak huni secara simbolis kepada Ibu Anismar oleh Kasdam XIX/TT Brigjen TNI Rudi Hermawan, di Jalan Padat Karya RT 002 RW 004, Kelurahan Tuah Negeri, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Rabu (11/3/2026).
Penyerahan kunci tersebut merupakan bagian dari sasaran fisik program TMMD yang dilaksanakan oleh Kodim 0301/Pekanbaru dalam membantu masyarakat mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak, sehat, dan nyaman untuk dihuni.
Dalam kegiatan tersebut, Kasdam XIX/TT didampingi oleh Wakil Walikota Pekanbaru . Markarius Anwar, S.T., M.Arch dan Dansatgas TMMD ke-127 Kodim 0301/Pekanbaru, Kolonel Inf Ikhsanuddin, S.Sos., M.M., Penyerahan kunci menjadi simbol selesainya pembangunan rumah milik Ibu Anismar yang sebelumnya berada dalam kondisi kurang layak huni.
Kasdam XIX/TT Brigjen TNI Rudi Hermawan menyampaikan bahwa program TMMD merupakan wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat. Melalui kegiatan ini, TNI bersama pemerintah daerah dan masyarakat bergotong royong membangun wilayah sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Dansatgas TMMD ke-127 Kodim 0301/Pekanbaru Kolonel Inf Ikhsanuddin berharap rumah yang telah dibangun melalui program TMMD ini dapat memberikan manfaat bagi penerima bantuan serta menjadi motivasi untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Program TMMD ke-127 Kodim 0301/Pekanbaru sendiri telah menyelesaikan berbagai sasaran pembangunan di wilayah Kelurahan Tuah Negeri, Kecamatan Tenayan Raya, baik berupa kegiatan fisik maupun nonfisik, sebagai upaya mendukung percepatan pembangunan wilayah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Penyerahan kunci rumah oleh Kasdam XIX/TT Brigjen TNI Rudi Hermawan
Sementara itu, Ketua RW 03 Kelurahan Tuah Negeri, Heriyadi, mengaku telah lama mengetahui kondisi rumah yang ditempati Anismar. Menurutnya, rumah tersebut kerap dilanda banjir setiap kali hujan turun.
“Kalau hujan deras lebih dari lima belas menit sampai satu jam saja, air sudah langsung naik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, genangan air bahkan bisa mencapai setinggi pinggang orang dewasa. Hal itu terjadi karena posisi rumah Anismar berada di area yang dikelilingi saluran air yang sudah tertutup dan alirannya tersumbat. Akibatnya, setiap hujan turun, air tidak dapat mengalir dengan baik dan langsung menggenangi rumah warga, termasuk rumah Anismar.
“Kondisinya memang sangat memprihatinkan. Apalagi Ibu Anismar sudah berusia lanjut dan sering sakit-sakitan,” kata Heriyadi.
Melihat kondisi tersebut, pihak RW kemudian mengusulkan agar rumah Anismar bisa mendapatkan bantuan pembangunan rumah layak huni. Usulan itu disampaikan kepada Pemerintah Kota Pekanbaru serta kepada pihak TNI dari Kodim 0301/Pekanbaru. Usulan tersebut akhirnya mendapat perhatian.
Rumah Anismar pun kemudian ditetapkan sebagai salah satu penerima manfaat dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 yang dilaksanakan oleh Kodim 0301/Pekanbaru.**/Rima Ridarni